Osis Jurnalistik. Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 09 Mei 2012

Bangunlah Dari Tidurmu

Waktu seakan berhenti berputar. Angin berhenti bertiup. Air mata mengalir dari jiwa yang merintih. Nurani tercabik, terkoyak tersayat pedih, meneteskan darah kealpaan. Tubuh menggigil seakan hanyut dalam porak poranda krisis yang tak kunjung berhenti. Terik matahari pagi dan terang sinar rembulan tak lagi memberikan harapan. Menyaksikan keadaan umat yang seakan kehilangan kesadaran perjuangan untuk meneruskan warisan suci ini—risalatul nabawiyyah yang mengibarkan panji–panji cinta rahmatan lil alamin. Umat bagaikan berada di negeri yang asing.

 Semangat berjamaah dimaksudkan untuk mengutamakan cinta kasih penuh persaudaraan di tengah-tengah perbedaan. Suatu semanagt yang menjadikan kita ummat yang kuat, bangsa yang bermarwah, Negara yang berdiri tegak di atas telapak kakinya sendiri. Tanpa semangat itu, demokrasi akan menjadi anarki dan mazhab menjadi tuhan. Fanatisme golongan menjamur dimana-mana. Hukum rimba tak dapat dielakkan. Orang-orang kuat akan menjadi serigala yang siap memangsa orang lemah dan dilemahkan. Dan demokrasi tinggal nama dalam bingkai indah yang bernama dari, untuk, dan oleh rakyat.

Bukalah kembali catatan sejarah dan naiklah ke puncak-puncak peradaban masa lalu. Ambil dan reguklah hikmahnya, niscaya akan kita dapati betapa jauhnya kita dari jalan nubuwwah (kenabian). Kita adalah umat raksasa yang berjalan dalam kegelapan kehilangan pemandunya. Umat yang mayoritas namun dipermaikan yang minoritas. Umat kehilangan tangan dan tak mampu lagi mengubah peradaban manusia. Bahkan, kehilangan keberanian untuk menampakkan kemuliaan akhlak. Karena masing-masing di antara kita telah memadamkan pelita jiwa persaudaraan, membuang semen perekat yang akan merakit bangunan kemuliaan akhlak.

Saat ini umat Islam bagaikan terlena dalam gemuruh hiasan duniawi yang diimpor dari pusat-pusat pergerakan non-Muslim. Globalisasi telah merambah semua aspek kehidupan. Westernisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari umat ini. Semua meniru dan mencontoh Barat, mulai dari pakaian, cara bergaul, dan musik. Melagukan musik barat yang orang lain tak paham diri sendiri tak ngerti. Sumber daya alam yang melimpah telah digadaikan. Karena kebodohan dan etos kerja yang lemah, jiwa kita dirasuki khayalan-khayalan yang menjerumuskan dalam kenikmatan yang sesaat.

Persis seperti yang diuntai sebuah peribahasa. “Naharuka ya maghrus sahwun wa ghoflatun wa lailuka naumun warroda laka lazimu.” (Siang hari kamu lupa bekerja dan lalai, wahai orang yang tertipu. Sedangkan malam hari kamu lelap tertidur merenda mimpi merajut khayal—sungguh celaka tak terelakkan). Perutmu kenyang, sedangkan tepat di sekitar rumah istanamu ada sepenggal hati yang merintih kelaparan. Bibirmu bergetar menghafalkan ayat dan nilai persaudaraan, padahal jiwamu penuh dengan egoisme dan permusuhan.

Kalau saja umat Islam terjaga dari tidurnya, bangun dari angan-angan kosong yang tiada guna, niscaya mereka memahami makna akidah sebagai keberpihakan penuh (kaffah). Mulai dari niat, bersikap, dan bersiasat haruslah berpihak pada Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman, "Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai-berai .... " (QS Ali Imran [3]: 103).

Qum fa andzir, bangunlah dari mimpimu. Berhentilah berkeluh kesah mencaci maki kegelapan. Lebih baik engkau menyalakan pelita yang mungkin berguna bagi mereka yang mencari pengharapan. Tebarkan iman dengan cinta. Jadikan hidupmu penuh arti. Dan bila sudah punya arti, bolehlah bersiap untuk mati., biasahkan bibirmu mengucap puji Ilahi Rabbi, “Laa ilaha illallah.”

0 comments: