Osis Jurnalistik. Diberdayakan oleh Blogger.
Entri Populer
Label
- Alumni (5)
- Artikel (24)
- Artikel Islami (25)
- Artis (1)
- E-DAY 2014 (1)
- foto (1)
- Lomba Bulan Bahasa (7)
- Menyambut HUT RI (1)
- MOS (2)
- Musik (1)
- Olahraga (1)
- Osis Jurnalistik (25)
- Pengetahuan Islam (5)
- Perpisahan (3)
- Puisi (5)
- Rohis (1)
- Sepuluh Satu (3)
- Teknologi (1)
- XI IA 2 (2012/2013) (1)
Admin
Senin, 30 Januari 2012
Kemana Setelah Tamat ?
Hidup adalah pilihan, paling tidak kalimat ini sering kita dengan, baik dari guru, teman, sahabat atau dari siapa saja.
Sekarang, para pelajar khususnya yang sedang berada di kelas XII akan dihadapkan dengan beberapa pilihan. Yang sejatinya setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan tertentu, yang setiap hari kita harus mengambik suatu keputusan untuk pilihan tersebut.
Hiruk pikuk Ujian Nasional (UN) kembali terdengar disana sini. Semuanya kembali bicara ujian ini mulai dari para pelajar, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, kepala daerah, dan tak terkecuali menteri pendidikan pun bicara tentang ujian yang menjadi momok bagi setaip pelajar setiap tahunnya.
Namun ada satu fenomena yang menjadi masalah yang tak kunjung selesai. Yaitunya masalah kejujuran. Kejujuran para pelajar dalam menjawab soal-soal.
Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh juga menekankan perlunya kejujuran dalam UN. Kejujuran merupakan bagian pendidikan karakter anak bangsa yang sangat penting. UN yang akan dilaksanakan 16-19 April 2012 ini mudah-mudahan berjalan dengan lancar.
Namun, penulis yakin dan percaya para pelajar saat ini tidak saja disibukkan dengan agenda mempersiapkan diri demi untuk lulus ujian dan melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Pelajar saat ini juga dihadapkan pada beberapa pilihan yang sejatinya bukanlah pilihan yang ringan. Karena pilihan mereka saat ini akan menentukan jejak langkah masa depan yang dirancang
Cerah dan suram masa depan akan ditentukan oleh pilihan tersebut, pilihan yang terkadang membuat pelajar menjadi pusing tujuh keliling. Karena banyak sekali pertimbangan yang akan diputuskan..
Setidaknya ada dua pilihan yang paling pertama yang harus dipilih. Pertama, melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, dalam artian tetap mencari dan menimbah ilmu dijalur yang formal seperti kebanyakkan remaja saat ini. Kedua, tak usah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, namun langsung terjun ke dunia kerja, tak perlu lagi membebani orang tua dengan biaya kuliah misalnya, dan bahkan tentu bisa berpenghasilan sendiri.
Tentu setiap pilihan mempunyai alasan masing-masing. Namun yang paling jelas dan tak boleh terlupan adalah tetap terus menimbah ilmu dimana pun berada dan walaupun tidak lagi duduk dibelakang meja.
Kalau mengambil keputusan yang ke dua maka yang akan dilakukan seterusnya dalah mencari lapangan kerja yang sesuai dengan bakat dan keterampilan. Dan yang semacam ini terkadang tidak terlalu sulit, kalau kita mau, tapi bukankah yang banyak saat ini adalah sarjana yang pengangguran.
Lalu bagaimana kalau memilih pilihan yang pertama. Maka akan dihadapkan pada pilihan akan kuliah dimana? Jurusan apa? Lalu mau jadi apa?. Disinilah terkadang akan banyak timbul pertanyaan dalam benak, banyak ragu, makanya tak jarang pada pemilhan ini banyak sekali yang mintak pertimbangan kepada guru, teman, sahabat, orang tua dan lain sebagainaya.
Yang bercita-cita ingin menjadi guru, maka tentu yang akan dilakukan adalah melanjutkan keperguruan tinggi dengan jurusan pendidikan. Ingin menjadi dokter tentu masuk Fakultas Kedokteran. Ingin menjadi politikus masuk jurusan politik. Ingin menjadi wartawan masuk Fakultas Ilmu Komunikasi. Ingin bekerja di Bank Syariah masuk ke Fakultas Syaria, dan lain sebagainya.
Inilah sangat penting namun tak mutlak seperti di atas. Adakalanya seorang politikus lahir dari berbagai jurusan yang tak berlatar belakang politik, namun karena ia sering membaca buku tentang politik, bergaul dengan orang-orang politik, maka bisa juga menjadi politikus handal seperti Hatta Rajasa, yang berlatar belakang pendidikan perminyakan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Tifatul Sembiring, seorang insinyur computer lulusan Sekolah Tinggi Ilmu manajemen Informatika dan Komputer (STI&K) Jakarta. Hidayat Nur Wahid, lulusan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah dan nama lain yang tak mungkin disebutkan satu persatu.
Seorang wartawan terkadang tak juga terlahir dari fakultas dan jurusan yang mempelajari tentang komunikasi dan tulis menulis. Sebut saja Karni Ilyas, kita mengenalnya lewat acara Bang One dan juga host Jakarta Lawer Clubs.Seorang wartawan senior, ia jebolan S1 jurusan Hukum UI. Ia penah menjadi wartawan surat kabar Suara Karya dan Tempo. Televise swasta seperti SCTV, ANTV dan sekarang TV One. Ia menjadi wartawan karena kerpiawainnya dalam mengolah kata-kata dan ketekunanan dalam karirnya. Yang ideal memang jurusan politik menjadi seorang politikus dan seorang jebolan hukum misalnya setidaknya menjadi pengacara kalau tidak bekerja di instansi-instansi hukum atau menjadi menti hukum.
Satu hal yang ingin penulis tekankan disini bahwa yang pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang calon mahasiswa atau mahasiswa itu sendiri adalah niat, maka luruskanlah niat itu maka engkau akan sampai kepada pantai yang akan engkau tuju.
Untuk apa kuliah? Untuk mencari kerja atau untuk menimbah ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Mengapa demikian. Karena apabila niat kita melangkah telah salah maka jalanan yang akan kita tempuh akan penuh dengan kesalahan-kesalahan.
Kalau kuliah hanya untuk bisa menjadi guru, bekerja di instansi dan perusahaan tertentu, tentu ini adalah kekeliruan, mengapa? dalam kuliah seorang mahasiswa pasti kan terfokus pada kegiatannya setelah ia tak lagi menjadi mahasiswa, kerja dimana? Alhasil apa, tentu bagaimana bisa cepat tamat dengan nilai yang baik. Dan banyak dari mahasiswa hari ini, yang bila ada ujian masih nyontek demi mendapatkan nilai yang baik dan jelas-jelas nyontek adalah hal terlarang dan tercela.
Kepada calon mahasiswa, yang akan mewarisi bangsa ini kelak, yang akan menjadi pemimpin masa depan. Marilah kita luruskan niat, mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Bukannya urusan mencari kerja tidak penting namun yang lebih penting adalah belajar, karena dengan itu kita akan bisa konsentrasi dan tak menghalakan segala cara demi meraih nilai yang bagus.
Oleh: Rendi Ahmad Asori
Alumni MAN Teluk Kuantan 2010/2011
Sekarang, para pelajar khususnya yang sedang berada di kelas XII akan dihadapkan dengan beberapa pilihan. Yang sejatinya setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan tertentu, yang setiap hari kita harus mengambik suatu keputusan untuk pilihan tersebut.
Hiruk pikuk Ujian Nasional (UN) kembali terdengar disana sini. Semuanya kembali bicara ujian ini mulai dari para pelajar, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, kepala daerah, dan tak terkecuali menteri pendidikan pun bicara tentang ujian yang menjadi momok bagi setaip pelajar setiap tahunnya.
Namun ada satu fenomena yang menjadi masalah yang tak kunjung selesai. Yaitunya masalah kejujuran. Kejujuran para pelajar dalam menjawab soal-soal.
Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh juga menekankan perlunya kejujuran dalam UN. Kejujuran merupakan bagian pendidikan karakter anak bangsa yang sangat penting. UN yang akan dilaksanakan 16-19 April 2012 ini mudah-mudahan berjalan dengan lancar.
Namun, penulis yakin dan percaya para pelajar saat ini tidak saja disibukkan dengan agenda mempersiapkan diri demi untuk lulus ujian dan melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Pelajar saat ini juga dihadapkan pada beberapa pilihan yang sejatinya bukanlah pilihan yang ringan. Karena pilihan mereka saat ini akan menentukan jejak langkah masa depan yang dirancang
Cerah dan suram masa depan akan ditentukan oleh pilihan tersebut, pilihan yang terkadang membuat pelajar menjadi pusing tujuh keliling. Karena banyak sekali pertimbangan yang akan diputuskan..
Setidaknya ada dua pilihan yang paling pertama yang harus dipilih. Pertama, melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, dalam artian tetap mencari dan menimbah ilmu dijalur yang formal seperti kebanyakkan remaja saat ini. Kedua, tak usah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, namun langsung terjun ke dunia kerja, tak perlu lagi membebani orang tua dengan biaya kuliah misalnya, dan bahkan tentu bisa berpenghasilan sendiri.
Tentu setiap pilihan mempunyai alasan masing-masing. Namun yang paling jelas dan tak boleh terlupan adalah tetap terus menimbah ilmu dimana pun berada dan walaupun tidak lagi duduk dibelakang meja.
Kalau mengambil keputusan yang ke dua maka yang akan dilakukan seterusnya dalah mencari lapangan kerja yang sesuai dengan bakat dan keterampilan. Dan yang semacam ini terkadang tidak terlalu sulit, kalau kita mau, tapi bukankah yang banyak saat ini adalah sarjana yang pengangguran.
Lalu bagaimana kalau memilih pilihan yang pertama. Maka akan dihadapkan pada pilihan akan kuliah dimana? Jurusan apa? Lalu mau jadi apa?. Disinilah terkadang akan banyak timbul pertanyaan dalam benak, banyak ragu, makanya tak jarang pada pemilhan ini banyak sekali yang mintak pertimbangan kepada guru, teman, sahabat, orang tua dan lain sebagainaya.
Yang bercita-cita ingin menjadi guru, maka tentu yang akan dilakukan adalah melanjutkan keperguruan tinggi dengan jurusan pendidikan. Ingin menjadi dokter tentu masuk Fakultas Kedokteran. Ingin menjadi politikus masuk jurusan politik. Ingin menjadi wartawan masuk Fakultas Ilmu Komunikasi. Ingin bekerja di Bank Syariah masuk ke Fakultas Syaria, dan lain sebagainya.
Inilah sangat penting namun tak mutlak seperti di atas. Adakalanya seorang politikus lahir dari berbagai jurusan yang tak berlatar belakang politik, namun karena ia sering membaca buku tentang politik, bergaul dengan orang-orang politik, maka bisa juga menjadi politikus handal seperti Hatta Rajasa, yang berlatar belakang pendidikan perminyakan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Tifatul Sembiring, seorang insinyur computer lulusan Sekolah Tinggi Ilmu manajemen Informatika dan Komputer (STI&K) Jakarta. Hidayat Nur Wahid, lulusan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah dan nama lain yang tak mungkin disebutkan satu persatu.
Seorang wartawan terkadang tak juga terlahir dari fakultas dan jurusan yang mempelajari tentang komunikasi dan tulis menulis. Sebut saja Karni Ilyas, kita mengenalnya lewat acara Bang One dan juga host Jakarta Lawer Clubs.Seorang wartawan senior, ia jebolan S1 jurusan Hukum UI. Ia penah menjadi wartawan surat kabar Suara Karya dan Tempo. Televise swasta seperti SCTV, ANTV dan sekarang TV One. Ia menjadi wartawan karena kerpiawainnya dalam mengolah kata-kata dan ketekunanan dalam karirnya. Yang ideal memang jurusan politik menjadi seorang politikus dan seorang jebolan hukum misalnya setidaknya menjadi pengacara kalau tidak bekerja di instansi-instansi hukum atau menjadi menti hukum.
Satu hal yang ingin penulis tekankan disini bahwa yang pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang calon mahasiswa atau mahasiswa itu sendiri adalah niat, maka luruskanlah niat itu maka engkau akan sampai kepada pantai yang akan engkau tuju.
Untuk apa kuliah? Untuk mencari kerja atau untuk menimbah ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Mengapa demikian. Karena apabila niat kita melangkah telah salah maka jalanan yang akan kita tempuh akan penuh dengan kesalahan-kesalahan.
Kalau kuliah hanya untuk bisa menjadi guru, bekerja di instansi dan perusahaan tertentu, tentu ini adalah kekeliruan, mengapa? dalam kuliah seorang mahasiswa pasti kan terfokus pada kegiatannya setelah ia tak lagi menjadi mahasiswa, kerja dimana? Alhasil apa, tentu bagaimana bisa cepat tamat dengan nilai yang baik. Dan banyak dari mahasiswa hari ini, yang bila ada ujian masih nyontek demi mendapatkan nilai yang baik dan jelas-jelas nyontek adalah hal terlarang dan tercela.
Kepada calon mahasiswa, yang akan mewarisi bangsa ini kelak, yang akan menjadi pemimpin masa depan. Marilah kita luruskan niat, mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Bukannya urusan mencari kerja tidak penting namun yang lebih penting adalah belajar, karena dengan itu kita akan bisa konsentrasi dan tak menghalakan segala cara demi meraih nilai yang bagus.
Oleh: Rendi Ahmad Asori
Alumni MAN Teluk Kuantan 2010/2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar